Kisah Gisella Borrowka

Penyakit kusta bisa disembuhkan
Biarlah mereka hidup bersama kita
Mereka juga citra Allah
Tuhan sayang kita semua
Jangan lukai hati mereka,
Mereka telah terluka
Orang-orang kusta tidak saja sakit fisik,
tapi juga sakit hati.

[Gisela Borowka]

Libur Lebaran 2007 yang hanya dua hari saya manfaatkan untuk membaca tiga buku: Gisela Borowka, John Wood, serta Yohanes Surya. Mereka orang-orang hebat yang telah memberikan inspirasi dan dedikasi kepada sesama manusia.

Kali ini saya membuat catatan singkat tentang Gisela Borowka, perempuan asal Jerman, yang sangat terkenal di Lembata, Flores Timur. Gisela jauh lebih terkenal daripada bupati atau gubernur, bahkan presiden, yang telah beberapa kali diganti. Gisela sangat dekat dengan orang Lembata, Flores Timur umumnya.

Kami di pelosok Lembata lebih mengenal Gisela Borowka dengan sapaan Mama Putih. Selain Mama Putih. ada juga Mama Hitam, yakni Isabella Diaz Gonzales. Dua mama ini dikenal di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai mama penderita penyakit lepra alias kusta.

Ketika penderita lepra dikucilkan, dicap sebagai kutukan Tuhan atau dewa, Mama Putih dan Mama Hitam justru menampung mereka. Sejak 1963 Gisela Borowka berjuang mendampingi penderita lepra [kusta] di Lewoleba. Saat itu di Pulau Lembata jumlah penderita kusta cukup banyak, tersebar di berbagai pelosok, dijauhi masyarakat karena takut tertular.

Saya masih ingat, pada 1980-an Gisela Borowka datang ke kampung-kampung [jalan raya sangat buruk, listrik tidak ada, sanitasi, dan sebagainya sangat buruk] untuk memberi penerangan kepada masyarakat. Bahwa lepra itu bukan penyakit kutukan. Bahwa lepra bisa disembuhkan. Bahwa obat-batan untuk membasmi lepra sudah tersedia. Bahwa kita tidak boleh mengucilkan orang kusta. Bahwa kita tidak boleh percaya pada takhayul kun yang sangat menyesatkan. Dan seterusnya.

Mama Putih bicara dengan bahasa Indonesia ala Flores Timur. Sangat sederhana. Dia juga membawa beberapa bekas penderita lepra untuk kasih kesaksikan bahwa mereka benar-benar sudah sembuh. Mereka, para bekas penderita lepra, punya komunitas di Lewoleba, bisa kerja, produktif, bisa main teater, paduan suara, dan seterusnya.

Tapi kami, anak-anak kecil dan warga kampung, tidak percaya begitu saja. Orang kampung sudah telanjur termakan takhayul bahwa lepra penyakit kutukan. Celakanya lagi, kitab suci banyak menceritakan tentang penderita kusta di zaman Yesus Kristus yang juga dikucilkan masyarakat. Klop! Jadi, benar-benar sulit menghapus pandangan lama.

Gisela Borowka alias Mama Putih pertama kali menginjak bumi Lembata pada 28 Agustus 1963. Saya tidak bisa membayangkan Lembata pada tahun 1960-an. Sebab, pada 1980-an saja kita harus jalan kaki dari pelabuhan sederhana ke ‘kota’. Kota harus pakai tanda kutip karena jauh berbeda dengan kota di Jawa. Sampai sekarang saya tidak menganggap Lewoleba sebagai kota meskipun sejak reformasi sudah menjadi ibu kota kabupaten. Masih terlalu sederhana ala kampung-kampung umumnya.

Misi sosial Gisela ke Lembata dimungkinkan karena sebelumnya ia berkenalan dengan Isabella Diaz Gonzales, perawat yang menjadi teman akrabnya saat menempuh pendidikan di Wuezburg, Jerman. Mereka bahkan satu kamar di asrama. Isabella [belakangan menjadi Mama Hitam] bercerita betapa masih banyak penderita lepra di Flores Timur dan Indonesia umumnya.

Saat itulah Gisela Borowka teringat Pastor Damian de Veuster SSCC yang dikirim ke Hawaii pada 1863. Di sana orang-orang kusta dibuang ke Pulau Molokai. Cepat atau lambat para penderita kusta akan mati karena tidak ada perawatan. Pastor Damian menawarkan diri berkarya di Pulau Molokai agar bisa merawat para penderita kusta.

Selama 16 tahun Damian tinggal di pulau terkucil itu. Ia terkena lepra juga, dan meninggal di situ. Damian kemudian dijuluki pahlawan kusta dari Molokai. Nah, Gisela Borowka membaca cerita Pastor Damian saat masih kelas lima sekolah dasar di Jerman Timur.

“Hati kecil mengatakan bahwa saya harus mengikuti jejak Pastor Damian,” kata Gisela Borowka dalam buku yang ditulis Florens Maxi Un Bria, Pr. ini. Pada 1963, saat tiba di Lembata, cita-cita masa kecil Gisela mulai mewujud. Kondisi Lembata memang tidak separah Molokai, tapi status orang kusta sama-sama terkucil.

“Setiap hari kami sibuk mengurus orang sakit. Pekerjaan ini membuat aku senang dan bahagia…. Setiap saat selalu ada orang sakit kusta datang meminta obat. Mereka akhirnya berkeputusan tingga bersama kami sebab di masyarakat mereka disisihkan. Mereka harus tinggal jauh dari keluarga. Untuk itu, Isabella membangun dua pondok darurat untuk mereka,” cerita perempuan kelahiran Neisse, Jerman, 25 Agustus 1934, ini.

Situasi di pondok kusta pada 1960-an sangat sulit. Atap bocor. Kutu busuk. Nyamuk banyak sekali. “Setiap pagi kami dikejutkan oleh luka baru yang parah. Kami akhirnya tahu bahwa luka itu bekas gigitan tikus karena kaki mereka mati rasa. Mereka tidak tahu kalau malam tikus datang menggigit tangan dan kaki mereka.

“Kami memberi mereka kaus kaki pada malam hari. Hasilnya, setelah bangun kaus kakinya telah tiada karena telah dibawa si tikus nakal. Kami merasa ngeri sekali.”

Pada 1966 Gisela Borowka mendapat bantuan dari Jerman berupa bahan-bahan untuk mendirikan rumah sakit kusta di Lewoleba. Masyarakat menyebutnya rumah besi karena bahan-bahannya memang dari besi dan eternit. Pada Desember 1968 Rumah Sakit Lepra ‘Damian’ resmi beroperasi di Lembata. Lalu, dibangun dapur umum, paviliun, kamar cuci, kamar mandi, kakus, hingga kebun. Bagi Gisela Borowka, ini semua berkat bantuan doa Pater Damian, tokoh idolanya.

Kehadiran rumah sakit lepra membuat pelayanan Mama Hitam dan Mama Putih makin mudah. Orang-orang kusta akhirnya sembuh dan membentuk komunitas khusus. Masyarakat umum di Flores Timur pun tidak takut lagi dengan penyakit kusta. Boleh dikata, sejak akhir 1990-an tidak ada lagi penderita kusta di Flores Timur, khususnya Lembata. Jikapun ada, begitu tahu gejala-gejalanya, langsung diobati sehingga tidak merusak organ tubuh penderita.

RS Lepra semakin terkenal karena sering mementaskan teater di berbagai tempat. Gisela Borowka memanfaatkan Teater Padma untuk menjelaskan penyakit kusta di masyarakat. Semua pemain teater bekas penderita kusta. Teater ini main di kampung-kampung hingga Kupang, ibu kota provinsi NTT.

Pada 1980 RS Lepra diserahkan kepada kongregasi suster-suster CIJ. Gisela Borowka merasa bahwa tugasnya di Indonesia sudah selesai. Banyak penderita kusta sembuh dan telah kembali ke rumahnya masing-masing. Gisela mulai memikirkan berlibur ke Jerman, bahkan mungkin tinggal di negaranya itu. Misi kemanusiaan di Lembata tuntas dengan sempurna!

Namun, pada 1987 Uskup Kupang Mgr. Gregorius Monteiro meminta Gisela Borowka berkarya di Pulau Alor. Pulau ini terpencil dan lebih menantang ketimbang Lembata. Di Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Gisela melayani orang-orang kusta di Kampung Kusta Benlelang.

“Saya sangat sedih karena banyak dari mereka sudah cacat. Hati saya iba melihat tangan cacat mereka, namun masih bisa pegang palu besar untuk memecahkan batu-batu besar yang diambil di kali. Mereka menyekop pasir dari dalam air, dan itu semua dikerjakan dengan tangan cacat,” cerita Gisela Borowka.

Seperti di Lewoleba dulu, pada 1989 Gisela mendirikan rumah sakit lepra di Alor. Pasien yang parah dirawat di rumah sakit. Sementara kunjungan ke pelosok-pelosok untuk mengobati penderita kusta di lapangan tetap dilakukan. Pada 1990 pemerintah mengirim dokter spesialis dari RS Kusta Sitanala di Tangerang untuk membantu Gisela dan kawan-kawan di Alor.

Bekas penderita kusta yang cacat dioperasi agar anggota tubuhnya bisa lebih sempurna. Biaya ditanggung oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan Gisela berkembang karena donatur di dalam dan luar negeri terus membantu. Setiap tahun Kedutaan Besar Jerman di Jakarta mengadakan acara pengalangan dana untuk penderita kusta di Pulau Alor.

“Saya senang karena bantuan-bantuan itu pekerjaan kami menjadi ringan dan lebih baik,” kata Gisela Borowka. Dia juga membuka Panti Asuhan Damian di Kalabahi karena banyaknya anak keluarga miskin yang tidak mendapat layanan pendidikan dan kesehatan yang layak.

Pada 20 September 1996, bertepatan dengan masa pensiunnya, Gisela Borowka resmi menjadi warga negara Indonesia. Status WNI membuat ia lebih leluasa bekerja untuk penderita kusta dan orang-orang yang terbuang. “Saya percaya bahwa Tuhan telah mengatur semuanya dengan baik. Saya tidak berpikir lagi untuk pulang ke Jerman sebab tenaga saya masih dibutuhkan di Indonesia,” tegas Gisela.

Gisela Borowka alias Mama Putih telah berbuat banyak, bahkan terlalu banyak, untuk penderita kusta dan orang-orang telantar di Flores Timur dan Alor. Dia pahlawan orang kusta di Indonesia!

BIOGRAFI SINGKAT

Nama : Gisela Borowka
Lahir : Neisse, Jerman, 25 Agustus 1934
Pendidikan : Pendidikan perawat di Missionsaertztliche, Wuerzburg, Jerman, 1953.

TUGAS PELAYANAN

1958-1962 : Merawat penderita kusta di Ethiopia.
1963-1987 : Merawat penderita kusta di Lewoleba, Lembata, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
1987- sekarang : Merawat penderita kusta dan anak telantar di Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

PENGHARGAAN

1980 : Penghargaan tertinggi dari pemerintah Jerman atas dedikasinya sebagai pekerja sosial.
11 November 2000: Sido Muncul Award dari PT Sido Muncul Semarang atas jasa-jasanya di bidang sosial kemanusiaan.

SUMBER FOTO:
http://images.whityrosse.multiply.com/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s